Minggu, 05 November 2017

Di Sela Genggaman Jarimu

 
 

– fiksi –

Mungkin saya bukan yang terbaik. Mungkin bukan saya yang mampu mengubah sedihmu jadi pendar-pendar senyum. Bukan saya yang mampu membakar habis dingin di hatimu, yang membuat dingin itu mencair jadi kehangatan yang tidak pernah mampu terganti oleh siapapun. Mungkin bukan saya yang paling kamu cintai dengan penuh, saya juga bukan yang paling indah, bukan yang paling istimewa, bukan bagian penting dari kehidupan kamu.

Saya juga tau, mungkin kenangan-kenangan masa lalu yang kamu miliki jauh lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu untuk duduk berdua dengan saya. Mungkin kisah cinta kamu yang lama jauh lebih indah daripada harus berjalan berdampingan dengan saya. Kamu tidak perlu bilang, karena saya sudah paham. Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa, karena saya sudah terbiasa memafkan kamu, tanpa perlu diminta terlebih dahulu.

Seandainya saya punya kesempatan untuk memberitau kamu, entah pada suatu malam yang gelapnya pekat, atau di tengah gemuruh petir yang menggelegar, atau mungkin pada angin malam yang membawa habis seluruh rindu yang tersisa, seandainya saya mampu berbicara, saya ingin memberitahu kamu bahwa ketika kamu tidak ada, saya membiarkan air mata saya jatuh tanpa mampu ditahan. Saya menelannya sendirian. Saya pendam seluruh luka dan teriakan kesakitan yang menyiksa. Saya ingin memberitau kamu seberapa terlukanya saya untuk terus bertahan di sisi kamu. Memberitau kamu bahwa saya lelah harus menelan lagi kata rindu yang ingin saya sampaikan, menghapus sendiri tangis yang selalu berusaha saya sembunyikan.

Atau juga untuk memberitau kamu, bahwa di sela-sela genggaman jarimulah saya menemukan kekuatan. Pada genggaman tanganmulah saya temukan pendar-pendar bahagia yang nyatanya jauh lebih hebat dari luka hati saya. Pada kehangatan dalam genggamanmu saya temukan cinta yang tidak pernah kamu katakan, saya temukan obat untuk menyembuhkan lebam dalam jiwa. Dalam genggaman itu saya dapati bahwa meskipun kamu tidak bilang, kamu tetap menginginkan saya.

Maka saya bisikkan banyak sekali semoga kepada Sang Empunya Semesta. Semoga saya bisa selalu berjalan berdampingan dengan langkah kaki kamu. Semoga bayangan saya senantiasa tegak disamping bayanganmu. Semoga lelap saya bisa hanyut dalam tidurmu. Sedih saya rengkuh dalam pelukanmu. Rindu saya hanyut dalam jiwamu. Telinga saya dipenuhi degup jantungmu. Semoga saya bisa terus menautkan jemari saya di sela-sela genggaman jarimu, Seperti itulah doa yang saya ulang-ulang untuk diperdengarkan pada Tuhan. Seindah itu saya inginkan kamu dalam kehidupan yang saya nantikan.

Mudah-mudah kelak saya bisa menemani kamu menghabiskan hari, menikmati tubuh yang semakin renta dan menua, dalam gersang mentari, dan dalam rinai-rinai hujan, dengan jemari saya berada dalam sela-sela genganggaman jarimu, dan jiwa saya hangat dalam pelukanmu.

Dari wanita,

Yang jemarinya berada dalam sela genggaman jarimu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar