
Sudah delapan tahun berlalu sejak terakhir kali Ibu dan Ayah mengajak saya pulang ke kampung halaman untuk bertemu Kakek dan Nenek. Sudah delapan tahun berlalu, saya tidak pernah lagi melihat wajah renta yang selalu tersenyum ketika menatap saya, tidak pernah lagi merasakan tangan kokohnya menggendong saya, tidak pernah lagi merasakan badan ringkihnya membawa saya dalam dekapannya. Sudah begitu lama, sejak delapan tahun yang lalu, dan hari ini kami benar-benar berpisah, untuk selamanya.
Mungkin Ibu adalah orang yang paling terpukul mendengar kabar ini. Tapi tanpa berusaha menutupi apapun, saya juga terluka. Membayangkan bahwa setelah ini, saya tidak akan pernah bisa lagi bertemu dengan beliau. Saya merasa menyesal karena sampai ia pergi, saya masih cucunya yang secengeng dulu, saya masih cucu perempuannya yang gampang menangis, saya kesal dan berteriak marah ketika tidak diajak memancing oleh beliau, saya menangis keras-keras saat tidak dibolehkannya bermain hujan. Cengeng dan pemarah. Saya menyesal, karena sampai saat ini saya masih belum setegar yang ia minta.
Kakek, ah, bahkan panggilan itu terasa asing untuk saya dengar sendiri. Mungkin karena sudah begitu lama kata-kata itu tidak keluar dari mulut saya. Jemari saya bergetar hebat, saya berulang kali menyeka air mata dan menghapus huruf yang tidak sengaja saya tekan ketika saya menulis ini. Terpikir oleh saya, bagaimana bisa Kakek mencintai dan menyayangi saya sedalam ini, bagaimana mungkin Kakek mengasihi Ibu saya seperti anaknya sendiri, sedang dalam kenyataannya Ibu bukanlah anak kandungnya, saya bukan cucu kandungnya, tapi cinta dan kasih yang beliau berikan pada kami bisa sedalam ini.
Saya juga tak mengerti, bagaimana saya bisa sesedih ini ketika beliau pergi, padahal kita sudah begitu lama tak bertemu, saya bahkan lupa bagaimana caranya tertawa, saya lupa bagaimana suaranya. Jadi bagaimana mungkin tidak ada lagi kesempatan untuk saya mengenang kembali semua itu? Bagaimana mungkin tidak ada kesempatan bagi saya untuk menyimpan lebih baik lagi memori dengannya?
Apa benar Kakek pergi secepat ini?
Beliau bahkan belum melihat cucu perempuannya tumbuh dewasa, belum pernah melihat foto-foto saya ketika memenangkan kompetisi menulis tingkat nasional, cucu perempuannya ini pernah mengalahkan ribuan naskah untuk bisa memenangkan perlombaan itu. Beliau belum sempat mendengar saya mengaji, belum melihat cucunya yang kini sudah berhijab, belum pernah mengenakan baju hangat yang saya jahit untuknya, jadi mengapa beliau pergi secepat ini?
Rasanya sesak sekali. Betapa saya masih begitu ingin pulang ke kampung halaman sambil berlari menuju pelukannya, betapa saya masih ingin tidur sambil dibacakan cerita-cerita lampau olehnya. Tapi tentu semua ini sudah menjadi jalan terbaik yang ditetapkan Tuhan. Semua ini pasti sudah menjadi putusan yang terbaik untuk beliau. Mungkin akan lebih berat membiarkan beliau berada lama dalam kesakitan.
Jadi, Tuhan, saya hanya bisa berdoa semoga Engkau menempatkan beliau dalam tempat yang sebaik-baiknya. Menerima semua amal baiknya. Menghapus dosa-dosanya. Mungkin jika Engkau menghendaki, izinkan Kakek menghampiri saya di dalam mimpi. Di malam-malam yang sepi. Atau di malam-malam saat saya merasa rindu sekali dengan beliau. Mudah-mudahan kebaikan dan kebahagiaan, senantiasa menyertai beliau di atas sana...