Kamis, 01 Januari 2015

Selamat Tahun Baru, Kamu


– cerita fiktif –

Suasana begitu ramai, pengguna jalan berebut saling mendahului, seolah ingin cepat-cepat sampai di tempat tujuannya, seolah tak ingin ketinggalan penampilan band favoritnya. Di atas sana, langit dipenuhi jutaan kembang api yang meledak-ledak dengan sangat cantik. Warna warni menghiasi gelapnya malam hari ini. Tawa canda, kehangatan keluarga, dan harapan-harapan akan tahun yang lebih baik menyusupi sudut-sudut kota.

Jalanan malam ini begitu padat sampai rasanya saya pun turut kesulitan bernapas. Ac yang ada di mobil juga tidak mampu mendinginkan atmosfer yang tercipta. Saya terus bergerak gelisah, terang-terangan menunjukkan ketidaknyamanan yang saya rasakan serta perasaan bosan yang sedari tadi saya tahan. Pak Yudith, supir saya, berkali-kali melirik melalui kaca mobil. Beliau juga terlihat sama gusarnya. Entah karena kepanasan, bosan, atau karena terganggu oleh saya yang tidak bisa diam. Tangan kirinya yang tidak memegang stir berkali-kali beliau gunakan untuk mengubah suhu ac.

Sebenarnya saya tidak punya tujuan malam ini. Saya bukan ingin menonton band-band terkenal yang berkesempatan menghibur masyarakat di alun-alun kota, bukan ingin hadir di acara pertemuan keluarga, bukan ingin menghabiskan pergantian malam dengan sahabat dan teman-teman saya; membakar jagung, membuat sate, makan bersama, berfoto, bermain kembang api, atau membuat harapan-harapan menyenangkan untuk tahun depan. Tidak, saya tidak tertarik dengan semua itu. Tentu bukan karena saya tidak punya teman. Tapi saya rasa sendiri jauh lebih menenangkan. Malam ini saya hanya ingin berkeliling, berputar-putar di kota kecil ini, menghabiskan malam hingga larut.

Setelah berkutat lama dengan kemacetan, mobil saya akhirnya bisa keluar dari kungkungan menyebalkan itu. Sejujurnya tidak begitu menyebalkan, karena kemacetan seperti itu hanya terjadi satu tahun sekali, ya hanya saat tahun baru, disaat seperti ini saya jadi bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup di kota besar seperti Jakarta.

Saya mendongak untuk menatap keluar dari jendela kaca mobil, melihat ke arah langit dan mendapati banyak bintang yang bertebaran di atas sana. Bintang-bintang itu sangat cantik. Semua terlihat sama terangnya sampai tiba-tiba mata saya diburamkan oleh setitik tangis yang menggenang. Saya kemudian tidak dapat melihat mereka dengan jelas lagi meski kerlipan cahaya itu masih mampu membentuk bayangan di balik genangan air mata.

Tangan saya mengepal, sekuat tenaga berjaga agar tidak mengedip. Tapi rasanya perih, perih sekali sampai tanpa mengedipkan matapun air mata saya tetap tumpah. Bahkan ketika saya mendongak melihat langit diatas sana, tangis saya tetap sama banyaknya, tetap mengalir membanjiri wajah, lagi dan lagi.

Saya mengatupkan bibir kuat-kuat, meredam isakan kecil yang seringkali keluar begitu saja. Jari jemari saya bergetar menghapus jejak-jejak air mata. Kenapa rasanya begitu sulit untuk menerima kenyataan bahwa orang selalu saya nantikan kehadirannya adalah orang yang tidak akan pernah datang?

Mata saya terasa begitu berat. Saya bernapas tidak beraturan, rasa sesak menyeruak memenuhi dada. Saya sudah menghabiskan tujuh belas bulan untuk menunggunya, saya telah menghabiskan waktu begitu lama untuk tetap bertahan di sisinya. Tapi yang tidak saya mengerti ialah kenyataan bahwa dia masih saja mengabaikan saya. Apa waktu tujuh belas bulan belum cukup lama untuk membuktikan seberapa dalam sebuah perasaan? Apa semua air mata yang saya tumpahkan selama ini tidak cukup banyak untuk memberitahu betapa dia sangat berarti dalam hidup saya?

Ponse saya tiba-tiba bergetar, sebuah pesan Line masuk dan dalam hitungan detik mata lelah saya sudah mengeja namanya, pesan itu dari orang yang sedari tadi saya bicarakan. Saya hanya terdiam, menimbang-nimbang apa yang harus saya lakukan. Akhirnya dengan tangan bergetar jemari saya menyentuh layar ponsel, memilih untuk membaca pesan yang ia kirim.

“Anya, ini Mas..

Dia mungkin tidak pernah tau bahwa tiga kata yang ia kirim itu benar-benar berdampak besar pada perasaan saya. Mungkin pesan itu baginya bukan sesuatu yang luarbiasa. Barangkali dia hanya ingin mengucapkan selamat tahun baru. Atau barangkali hanya ada perlu. Dia dengan mudah datang dan membiarkan saya memupuk kembali angan-angan semu. Lalu esoknya dia juga dengan mudah pergi sehingga saya harus mengubur kembali semua itu.

Jadi kini hanya ada hening yang mendominasi. Saya memutuskan untuk membiarkan pesan itu tetap muncul di layar handphone saya tanpa berniat membalasnya. Saya membiarkan pikiran saya bertanya-tanya dan mengharap hal-hal menyenangkan dari baik pesan itu. Saya membiarkan hati saya kembali merasakan kebahagiaan setelah tujuh belas bulan menahan diri untuk tidak menghubungi dia terlebih dahulu. Meskipun setelah ini kenyataannya tidak seperti yang saya pikirkan, meskipun tujuan dari pesan itu dikirimkan bukanlah untuk membuat saya merasa senang, setidaknya untuk sekarang biarkan seperti ini, untuk malam ini biarlah semuanya tetap begini.

Suara kembang api yang begitu keras membuyarkan semua lamunan. Mata saya nanar menatap arloji di pergelangan tangan, jarumnya tepat menunjukkan pukul 24:00. Saya tersenyum, menyandarkan punggung ke sandaran kursi, menyamankan posisi duduk lalu memejamkan mata. Dalam hati saya berucap pelan sekali sebelum akhirnya benar-benar lelap dalam tidur.

Selamat tahun baru, kamu...