– cerita fiktif –
Malam sudah larut, gelapnya sepekat kopi hitam di atas nakas yang tak kunjung saya seduh. Hujan masih belum reda. Gerimis, tapi rintik air dan bau basah tanahnya mampu mengundang tangis. Petir bergemuruh, bersahutan meneriaki semesta. Angin malam masuk melalui celah-celah jendela, menerbangkan rindu yang memenuhi ruang kalbu, membawa dan menghempaskannya di udara, karena sosok di balik rindu itu seperti tak ingin tau ada yang mendambakannya sedalam ini.
Di samping semua itu, purnama masih tetap berdiri kokoh di peraduannya. Entah sudah berapa puluh malam saya ditemaninya, diterangi cahayanya. Dan saya masih saja setia duduk di samping kamu, menghabiskan seluruh malam dengan memandangimu, membiasakan diri dengan bau etanol dan obat-obatan, lalu membiarkan hati saya menyuarakan tanya yang entah pada siapa.
Bagi saya, ragamu hanya berjarak sepanjang lengan. Saya bisa menggapaimu dengan mudah, bisa menyentuhmu kapan saja. Tapi entah mengapa saya juga merasa bahwa sebenarnya ada samudera yang membentang di antara kita, ada sesuatu yang membuat saya tidak bisa merasakan hadirmu disaat yang sama, ada sesuatu yang membuat saya tidak pernah bisa mengatakan apa-apa, di depan tubuh yang sejak tiga tahun lalu terbaring lemah, di depan tubuh yang tak pernah terbangun, untuk saya.
Saya kemudian mengulurkan tangan. Menggenggam jemarimu, meremasnya pelan. Mencoba mencari-cari gerakan kecil, mengais-ngais harapan di ambang kehancuran, disaat seperti ini saya selalu berharap kamu memberikan sedikit saja jawaban. Tidak masalah kalau saya harus menunggu lama, asal setiap saya memanggil kamu, meminta kamu bangun dari tidur, kamu bisa memberi saya setitik saja harapan.
Saya bukannya tidak pernah lelah, saya bukannya tidak pernah jenuh duduk di ruangan putih ini, memandangi kamu yang terbaring dalam keadaan koma, hampir setiap malam. Mengarahkan pandangan putus asa, memperlihatkan pundak yang bergetar hebat menahan air mata. Seluruh malam saya persembahkan kepada pengharapan akan bagaimana keajaiban Tuhan bekerja pada setiap makhlukNya, berharap bahwa keajaibanNya juga terjadi pada kita.
Dan di antara kehangatan tanganmu, saya selalu berharap mendapatkan kekuatan. Di antara lenganmu yang menjadi tempat saya bersandar, saya lepaskan segala tangis yang terbendung sejak lama, saya biarkan kulitmu merasakan lelehan air mata yang selalu tumpah tanpa bisa saya ahan, mengalir begitu saja tanpa bisa saya kendalikan.
Kalau nanti saya katakan bahwa saya baik-baik saja tanpa kamu, kalau saya bilang bahwa saya bisa sangat tegar kamu tinggalkan begitu saja tanpa kepastian, kalau nanti saya tidak pernah bertanya-tanya lagi kapan kamu sadar, kalau saya katakan saya sudah tidak peduli kau dengar atau tidak kata cintanya, entah kau hiraukan atau tidak perasaannya, atau jika nanti saya katakan saya tidak lagi mencintai kamu, maka itu semua adalah dusta.
Karena kalaupun kamu tidak tau seberapa lama waktu yang sudah saya habiskan untuk menantimu bangun selama ini, atau kalaupun kamu tidak tau ada perempuan yang menghabiskan malamnya hanya untuk duduk menemanimu, menuturkan banyak doa di tengah tidurmu, yang menekan segala ketakutan dan rasa bencinya teradap kesendirian hanya untuk bertahan di sisimu, dan bahkan jika kamu tidak tau kalau saya merindukan kamu sedalam dan sepedih ini, maka bukankah itu tetap dinamakan cinta? Bukankah hakikatnya tidak berkurang se-senti perasaanpun?
Lalu kalau kamu bosan mendengar derit pintu yang saya buka setiap malam, bosan mendengar isak tangis saya, bosan merasakan air mata saya di lengan kamu, atau jika kamu tidak lagi menginginkan semua ini, maka tolong tenangkan angin ribut yang bergemuruh di hati saya, tolong redam kepedihan saya, tolong beri jawaban atas semua pertanyaan yang saya ajukan lewat seribu purnama, tolong yakinkan saya, bahwa di suatu tempat dalam memorimu, saya ada.
Maka ketahuilah lewat seribu purnama yang dengannya saya desahkan napas yang semakin redup, lewat seribu purnama yang telah saya habiskan untuk menunggu seseorang yang bahkan tak pernah memberitahu saya kapan akan berhenti tertidur, yang dengannya saya sembunyikan rindu dan raut pilu dalam pejaman mata. Maka ketahuilah dari seribu purnama itu, bahwa saya tidak pernah berhenti berdoa agar kamu menemui jalan pulang, untuk bisa kembali bersama saya.
Kepada segala aksara yang terlintas tak tertata
Kepada rembulan yang menapak kokoh di angkasa
Kepada telinga Tuhan melalui semesta
Kuteriakkan segala harap melalui angin malam
yang akan menerbangkannya ke haribaan Tuhan
Entah itu hitam atau putih warna yang akan datang
Tak peduli berat atau ringan jalan yang kuterjang
Sepedih atau sebahagia apa yang akan kurasakan
Atau berapa banyak lagi penantian yang kuperlukan
Asal bersamamu, aku mau
