Selasa, 01 Desember 2015

Selamat Ulang Tahun, Bu

Bu, malam ini hujan turun deras sekali, rintiknya yang tadi terdengar gemercik berubah seperti gemuruh yang beradu dengan angin kencang, yang berkali-kali menghasilkan tempias di lantai-lantai masjid, tempat saya kini menghabiskan malam, berdua saja dengan Tuhan.

Teman-teman saya yang lain masih terlelap, tapi saya bangun pagi-pagi untuk mengambil air wudhu lalu mulai melangkah memasuki masjid, tidak ada siapa-siapa disana. Gelap, tapi saya bisa merasakan kedamaian di dalamnya. Saya berdiri di shaf paling depan, tidak benar-benar sendirian karena denting jarum jam dan derasnya hujan menjadi pemecah keheningan. Saya memulai dengan Takbiratul Ihram, saat itu juga saya melepaskan seluruh air mata yang sedari malam saya tahan mati-matian, saya tumpahkan seluruh kesedihan yang sejak tadi memberontak minta dilepaskan, bersamaan dengan itu isakan-isakan hebatpun mulai keluar dari bibir saya yang gemetar, beradu dengan gemuruh angin dan petir yang menggelegar di luar sana.

Air mata jatuh semakin berderai ketika kening saya kini menempel dengan lantai, saya bisa merasakan seluruh doa yang tiada henti kau kirimkan pada saya lewat desau angin yang berhembus menerbangkan tirai-tirai masjid. Demi Tuhan semesta alam yang saat ini saya bersujud menghadapnya, saya merindukanmu, Bu.

Pada deras hujan yang mengguyur habis seluruh semesta, saya titipkan rindu yang lalu dibawa hanyut oleh hembus angin, yang akan disampaikannya melalui celah jendela rumah kita, lalu rindu itu akan ia bisikkan ditelingamu, ia desirkan di hatimu, ia debarkan di jantungmu, lalu hembusnya berkali-kali menerpa tubuhmu, menerbangkan cinta yang begitu besar, yang ia tebar pada ribuan mil jarak diantara kita.

Bu, saya mohon ampun pada rahimmu yang naungi saya sembilan bulan, saya luluh pada dadamu yang sembuhkan dahaga, saya lantah pada pelukmu yang tepiskan derita, saya lepuh pada hatimu yang cintai saya seumur hidup. Saya letakkan sujud, Bu, pada tiap keringatmu yang mengalir di detik umur saya.

Betapa rasanya saya ingin meminta dan menangis sehebat-hebatnya pada Tuhan kita, berharap Ia Yang Maha Kuasa mengabulkan permintaan saya, membiarkan kita hidup untuk waktu yang lama, agar saya tidak perlu merasa ketakutan kehilanganmu. Betapa rasanya saya ingin membeli seluruh dunia untuk membalas kasih sayangmu, yang pada akhirnya saya sadari; bahkan seluruh jagat rayapun tak mampu membayar setengahnya.

Saya masih bersujud di hadapanNya, masih meletakkan kepala saya sejajar dengan tanah, saya banyak bercerita tentang bagaimana saya merasa begitu berterimakasih kepada Tuhan karena telah mengirimkan seseorang yang luar biasa sepertimu.

Pembuluh darah saya seakan-akan ngebut di dalam jalur peredarannya, berlomba-lomba mengisi celah-celah kosong di otak saya, semakin menghantam saya dengan memori yang selama ini tidak pernah lagi saya ingat dengan jelas. Bu, betapa di tengah sujud ini air mata saya mengalir dengan sangat deras, saya bahkan tidak sadar bahwa isakkan saya memenuhi ruang-ruang di masjid ini.

Masih dalam posisi ini, saya mengingat lagi saat-saat dimana kau selalu memberi peluk saat dunia memperlakukan saya dengan begitu buruk, dimana dalam dekapanmu saya selalu menemukan tempat untuk dituju. Betapa saya menyadari, Bu, bahwa pundakmu adalah tempat seluruh kesedihan melebur menjadi kekuatan. Betapa rangkulanmu adalah tempat seluruh penderitaan melebur menjadi kebahagiaan.

Kini hujan sudah mulai reda, Bu. Saya bisa mendengar rintiknya yang bersua dengan genting dan tanah mulai memelan. Tapi tangis saya belum juga berhenti, pun doa saya belum juga usai.

Bu, selamat ulang tahun, saya tidak akan menyebutkan umurmu, saya tidak mau mengingatnya, karena bagi saya kau masih tetap dirimu yang lima belas tahun lalu mendekap saya dengan begitu bahagia saat pertama kali saya bertemu dengan dunia, kau masih dirimu yang menciumi saya dengan air mata saat saya menangis kencang karena kedinginan, kau masih dirimu yang detak jantungnya dapat membuat tangis saya berhenti seketika, kau masih ibu saya yang tanpa kenal lelah bangun tengah malam saat tangis saya terdengar, kau masih ibu saya yang dengan tangannya menuntun saya meniti langkah demi langkah, sampai saya kini melepaskannya karena sudah benar-benar bisa berlari kearahmu. Kau masih ibu saya, yang selamanya muda dan bahgia, yang dalam sholatnya tidak pernah berhenti mendoakan kebahagiaan saya, selalu, dan akan terus seperti itu.

 

Selamat ulangtahun, Bu

 

Dari langit malam Tangerang Selatan,

1 Desember 2015

 

Minggu, 15 Maret 2015

Untuk Kakek


 

Sudah delapan tahun berlalu sejak terakhir kali Ibu dan Ayah mengajak saya pulang ke kampung halaman untuk bertemu Kakek dan Nenek. Sudah delapan tahun berlalu, saya tidak pernah lagi melihat wajah renta yang selalu tersenyum ketika menatap saya, tidak pernah lagi merasakan tangan kokohnya menggendong saya, tidak pernah lagi merasakan badan ringkihnya membawa saya dalam dekapannya.  Sudah begitu lama, sejak delapan tahun yang lalu, dan hari ini kami benar-benar berpisah, untuk selamanya.

Mungkin Ibu adalah orang yang paling terpukul mendengar kabar ini. Tapi tanpa berusaha menutupi apapun, saya juga terluka. Membayangkan bahwa setelah ini, saya tidak akan pernah bisa lagi bertemu dengan beliau. Saya merasa menyesal karena sampai ia pergi, saya masih cucunya yang secengeng dulu, saya masih cucu perempuannya yang gampang menangis, saya kesal dan berteriak marah ketika tidak diajak memancing oleh beliau, saya menangis keras-keras saat tidak dibolehkannya bermain hujan. Cengeng dan pemarah. Saya menyesal, karena sampai saat ini saya masih belum setegar yang ia minta.

Kakek, ah, bahkan panggilan itu terasa asing untuk saya dengar sendiri. Mungkin karena sudah begitu lama kata-kata itu tidak keluar dari mulut saya. Jemari saya bergetar hebat, saya berulang kali menyeka air mata dan menghapus huruf yang tidak sengaja saya tekan ketika saya menulis ini. Terpikir oleh saya, bagaimana bisa Kakek mencintai dan menyayangi saya sedalam ini, bagaimana mungkin Kakek mengasihi Ibu saya seperti anaknya sendiri, sedang dalam kenyataannya Ibu bukanlah anak kandungnya, saya bukan cucu kandungnya, tapi cinta dan kasih yang beliau berikan pada kami bisa sedalam ini.

Saya juga tak mengerti, bagaimana saya bisa sesedih ini ketika beliau pergi, padahal kita sudah begitu lama tak bertemu, saya bahkan lupa bagaimana caranya tertawa, saya lupa bagaimana suaranya. Jadi bagaimana mungkin tidak ada lagi kesempatan untuk saya mengenang kembali semua itu? Bagaimana mungkin tidak ada kesempatan bagi saya untuk menyimpan lebih baik lagi memori dengannya?

Apa benar Kakek pergi secepat ini?

Beliau bahkan belum melihat cucu perempuannya tumbuh dewasa, belum pernah melihat foto-foto saya ketika memenangkan kompetisi menulis tingkat nasional, cucu perempuannya ini pernah mengalahkan ribuan naskah untuk bisa memenangkan perlombaan itu. Beliau  belum sempat mendengar saya mengaji, belum melihat cucunya yang kini sudah berhijab, belum pernah mengenakan baju hangat yang saya jahit untuknya, jadi mengapa beliau pergi secepat ini?

Rasanya sesak sekali. Betapa saya masih begitu ingin pulang ke kampung halaman sambil berlari menuju pelukannya, betapa saya masih ingin tidur sambil dibacakan cerita-cerita lampau olehnya. Tapi tentu semua ini sudah menjadi jalan terbaik yang ditetapkan Tuhan. Semua ini pasti sudah menjadi putusan yang terbaik untuk beliau. Mungkin akan lebih berat membiarkan beliau berada lama dalam kesakitan.

Jadi, Tuhan, saya hanya bisa berdoa semoga Engkau menempatkan beliau dalam tempat yang sebaik-baiknya. Menerima semua amal baiknya. Menghapus dosa-dosanya. Mungkin jika Engkau menghendaki, izinkan Kakek menghampiri saya di dalam mimpi. Di malam-malam yang sepi. Atau di malam-malam saat saya merasa rindu sekali dengan beliau. Mudah-mudahan kebaikan dan kebahagiaan, senantiasa menyertai beliau di atas sana...