Sudah 6 tahun sejak pertama kali blog ini aku buat, tepatnya blog ini lahir
di tahun 2012, dan sekarang... sudah tahun 2018. Mungkin untuk teman-teman yang
juga punya blog dengan viewers puluhan ribu, viewers blog ini masih terbilang ‘b
aja’, tapi buat aku pribadi, setiap aku buka blog ini dan liat jumlah
viewersnya, aku ingin sekali mengucapkan terimakasih untuk semua orang yang
pernah dan mau mampir kesini. Terimakasih sudah mau membaca tulisan-tulisanku,
cerita-cerita fiksi yang kutulis, atau bahkan surat-surat sederhana yang kubuat
dan kutujukan untuk beberapa orang-orang istimewa di hidupku.
Terimakasih sudah mau membuka blog ini disela-sela kesibukan ataupun
diwaktu-waktu istirahat teman-teman, seperti judulnya, aku pribadi membuat blog
ini untuk menjadi sebuah tempat yang bisa teman-teman kunjungi dimalam-malam
sebelum teman-teman beranjak tidur.
Aku gatau apakah teman-teman juga seperti ini atau ngga, tapi biasanya
sebelum tidur, aku selalu ngeliat ke langit-langit kamar, mikirin hal-hal yang
malah ngga kepikiran selama seharian tapi baru terlintas dipikiran tepat
sebelum tidur. Banyak sekali hal-hal yang tiba-tiba muncul, seperti
kenangan-kenangan masa lalu, hal-hal sedih ataupun menyenangkan yang terjadi
hari ini, atau bahkan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana kita akan hidup
di masa depan.
Tentu di waktu-waktu itu, orang-orang rumah udah pada tidur, jadinya aku ga
punya seseorang untuk kuminta mendengarkan hal-hal yang kurasakan atau untuk
diajak berbagi, hahaha. Jadi dari sanalah blog ini lahir. Kebanyakan ide-ide
menulis itu muncul di malam hari sebelum aku tidur. Termasuk beberapa cerita
perjalanan hidup yang selama ini hanya kusimpan sendiri, mulai hari ini aku
fikir ga ada salahnya untuk turut berbagi cerita-cerita itu bersama
teman-teman, semoga ada satu atau dua hal yang bisa dipetik dan dijadikan
pelajaran hidup, atau kalaupun tidak ada, mudah-mudahan blog ini bisa cukup
menghibur dan menemani teman-teman sebelum tidur.
* * *
Sejujurnya sejak tahun 2015 aku merasa hidupku banyak berubah. Ada
kebiasaan-kebiasaan hidup yang benar-benar berbeda dan berbanding terbalik
dengan bagaimana aku menjalani kehidupan sebelumnya. 2015, aku akhirnya lulus
sekolah menengah dan orangtuaku - memaksa - memasukanku ke sebuah sekolah
boarding di daerang Tangerang Selatan. Aku mulai hidup mandiri dan jauh dari
orangtua, 24 jam bersama orang-orang yang baru kukenal tepat ketika aku masuk
asrama, sangat-sangat menyebalkan karena ternyata hidup bersama orang-orang
yang memiliki prinsip dan disiplin hidup yang berbeda dengan kita itu sulit
sekali. Banyak hal yang ga bisa aku tolelir.
Tapi ternyata bukan hanya aku, mereka pun sama. Banyak hal-hal tentang aku
yang tidak bisa mereka terima dengan mudah. Ditambah lagi aku anak tunggal dan
aku cukup keras kepala sehingga selama tiga tahun berada disini aku bisa
menyimpulkan bahwa diantara semua teman-temanku, aku adalah satu-satunya yang
memiliki gesekkan paling kuat. Ada banyak hal tidak menyenangkan yang terjadi
selama tiga tahun ini, meskipun tentu hal-hal baik juga ada, seperti aku yang
terpilih jadi Ketua Umum OSIS karena itu merupakan mimpiku sejak sekolah
menengah, namun secara keseluruhan aku bisa bilang bahwa hidupku disini berat
sekali.
Aku masih sering merasakan kalau mataku basah setiap kali memikirkan
hal-hal buruk itu. Tapi teman-teman, selama tiga tahun ini, bersamaan dengan
kesulitan dan kepedihan yang aku rasakan, aku selalu tau bahwa Allah selalu
bersamaku, selalu bersama deru nafas dan langkah kakiku. Tanpa aku sadari,
kesedihan dan perasaan tidak adil yang kurasakan malah membuatku semakin dekat
dengan Tuhan, aku tidak pernah tau bahwa menangis dalam sholat rasanya bisa
begitu candu, kelegaan dan ketenangan yang kudapatkan setelahnya adalah
perasaan yang selalu ingin kurasakan setiap saat. Ada banyak sekali doa-doa
yang kulantunkan, ada banyak sekali permintaan dan keinginan yang kuutarakan,
tapi goalsku yang terbesar selama tiga tahun aku menempuh pendidikan SMA ialah
lolos SNMPTN. Maka aku meminta kepada Tuhan, karena aku sadar selain belajar
dan bekerja keras selama tiga tahun ini, kehendak Tuhan ada diatas segalanya.
Aku tentu tidak punya siapa-siapa yang bisa kumintai tolong agar aku masuk
universitas ini dan itu, dan aku juga tidak punya cukup uang untuk ikut les
SBMPTN yang harganya sangat mahal atau bahkan aku tidak cukup pintar untuk
mengerjakan soal-soal tes mandiri di universitas-universitas bergengsi. Jadi,
selain nilai rapot yang selalu berusaha kupantau dan kuusahakan selalu naik
sejak kelas 10, aku punya Tuhan yang memiliki dunia dan seisinya, maka padaNya
aku meminta. Dan Allah menjawabnya dengan hasil yang luar biasa.
Hari itu, tulisan dengan warna hijau ada di layar handphoneku, tentu
teman-teman tau maksudnya kan?
Alhamdulillah..
Alhamdulillah..
Alhamdulillah..
Hari itu adalah tangis paling membahagiakan yang pernah kurasakan selama
tiga tahun berada disini, diantara semua tangis dan teriakan tertahanku di
kamar mandi asrama, diantara semua wajah tunduk dan langkah beratku, itu adalah
hari dimana aku merasa begitu bahagia ada disini.
Jadi teman-teman, seberat apapun, sepedih apapun, dan sesulit apapun
hari-hari yang kalian jalani, kalian harus tau bahwa Tuhan akan selalu ada
bersama kalian. Maka berdoalah padanya, bukan meminta dihindari dari hal-hal
berat dan berbagai cobaan, tapi mintalah kekuatan untuk melewatinya. Karena
satu-satunya kekuatan yang kita miliki untuk dapat terus menjalani kehidupan di
dunia ini, adalah doa.
2018, terimakasih ♡
Tidak ada komentar:
Posting Komentar