Selamat malam teman-teman.
Sebelum kita beranjak tidur, saya ingin bilang kalau sudah lama sekali saya ingin kembali bercerita sesuatu di blog ini. Tapi saya tahan. Bukan karena ngga ada waktu, tapi karena sebenarnya isi ceritanya hanya penuh keluhan dan keluhan. Sudah lama sekali dari cerita pertama dan satu-satunya yang pernah saya post di blog ini, hampir satu tahun? Mungkin itu sebabnya saya jadi banyak menghapus dan mengetik ulang, banyak menimbang-nimbang, karena ketika dibaca ulang satu dua kata terasa kurang pas.
Malam ini saya ingin menceritakan kepada teman-teman sebuah cerita tentang dua piala. Tentang bagaimana saya yang pemarah, cengeng dan pemberontak, yang suka menyalahkan takdir Tuhan dan yang dengan sok tau menganggap bahwa dari seluruh isi dunia, Tuhan cuma ngga suka sama saya, berubah menjadi Annur yang lebih dewasa, yang merasa bersalah sekali sudah banyak berburuk sangka, karena saya pada suatu hari tertegun pada satu hal, dimana terkadang kita begitu membenci sesuatu, namun nyatanya itu adalah hal terbaik yang digariskan untuk kita.
Hampir satu tahun ini saya mencoba berdamai dengan keadaan, dengan ego, dengan diri saya sendiri. Saya pikir pindah ke sekolah baru rasanya akan sama seperi yang dulu-dulu. Ternyata kali ini beda sekali. Kalimantan benar-benar berisi banyak hutan seperti yang saya bayangkan. Dibandingkan Bali tentu kota ini terasa membosankan sekali. Saat hari pertama saya masuk ke sekolah baru, beberapa teman terlihat sangat antusias dengan saya. Mereka mengerubungi meja saya, mengajak berkenalan, menanyakan banyak sekali pertanyaan tentang ini dan itu. Beberapa guru juga sama antusiasnya, saya selalu disuruh maju ke depan kelas dan berkenalan, bercerita tentang pengalaman saya tinggal di Bali, berulang-ulang setiap kali ada guru dan pelajaran baru yang akan dimulai.
Saya selalu pulang dalam keadaan kesal dan marah. Ngga lupa sambil membanding-bandingkan keadaan disini dengan sekolah lama saya. Di Bali, sekolah saya besar, terdiri dari beberapa gedung bertingkat, halaman yang luas, terletak di tengah kota yang lokasinya dekat pantai Sanur dan jalanan utama menuju bandara. Di sini. Bangunan sekolah ini hanya satu baris, hanya 2 tingkat, tidak ada pembatas atau penghalang dengan SD di sebelahnya, saat saya baru masuk jalanan ke sekolah belum di aspal jadi teman-teman bisa bayangkan bagimana keadaannya ketika hujan, kemudian bersebalahan dengan sungai kecil dan diseberang sungai itu, ada kandang sapi. Ketika siang hari semesta meniupkan sepoi-sepoi angin, rasanya nikmat sekali. Selain itu tidak ada banyak pilihan ekstrakuliker, tidak ada taekwondo apalagi jurnalistik. Saya akhirnya bergabung dengan eskul pramuka dan bulu tangkis. Cerita lainnya, sejak SD sampai kelas 1 SMP, saya belum pernah memakai jilbab, menggunakan rok panjang serta seragam berlengan panjang ke sekolah. Bukan jilbabnya, tapi rok panjang ini benar-benar menjadi sumber masalah. Seminggu pertama sekolah, jahitan belakang rok saya robek sekitar 5cm. 2 minggu setelah itu robeknya makin panjang jadi 10cm. Dijahit dobel, bolak-balik, rombek lagi seminggu kemudian. Dalam hampir satu tahun ini saya mungkin sudah beberapa kali mengganti rok biru, belum terhitung rok putih yang saya pakai di rabu-kamis, serta rok pramuka untuk hari jumat. Belum lagi kalau ban sepeda saya kempes, kena paku, atau rantainya tiba-tiba lepas dan sulit untuk dipasang kembali, atau stang sepeda saya bengkok karena tidak sengaja terjatuh saat orang lain mengambil sepedanya. Tidak hanya satu atau dua kali, tapi saya berkali-kali menangis ketika berjalan pulang sambil menuntun sepeda.
Selamat malam teman-teman.
Sebelum kita beranjak tidur, saya ingin bilang kalau sudah lama sekali saya ingin kembali bercerita sesuatu di blog ini. Tapi saya tahan. Bukan karena ngga ada waktu, tapi karena sebenarnya isi ceritanya hanya penuh keluhan dan keluhan. Sudah lama sekali dari cerita pertama dan satu-satunya yang pernah saya post di blog ini, hampir satu tahun? Mungkin itu sebabnya saya jadi banyak menghapus dan mengetik ulang, banyak menimbang-nimbang, karena ketika dibaca ulang satu dua kata terasa kurang pas.
Malam ini saya ingin menceritakan kepada teman-teman sebuah cerita tentang dua piala. Tentang bagaimana saya yang pemarah, cengeng dan pemberontak, yang suka menyalahkan takdir Tuhan dan yang dengan sok tau menganggap bahwa dari seluruh isi dunia, Tuhan cuma ngga suka sama saya, berubah menjadi Annur yang lebih dewasa, yang merasa bersalah sekali sudah banyak berburuk sangka, karena saya pada suatu hari tertegun pada satu hal, dimana terkadang kita begitu membenci sesuatu, namun nyatanya itu adalah hal terbaik yang digariskan untuk kita.
Hampir satu tahun ini saya mencoba berdamai dengan keadaan, dengan ego, dengan diri saya sendiri. Saya pikir pindah ke sekolah baru rasanya akan sama seperi yang dulu-dulu. Ternyata kali ini beda sekali. Kalimantan benar-benar berisi banyak hutan seperti yang saya bayangkan. Dibandingkan Bali tentu kota ini terasa membosankan sekali. Saat hari pertama saya masuk ke sekolah baru, beberapa teman terlihat sangat antusias dengan saya. Mereka mengerubungi meja saya, mengajak berkenalan, menanyakan banyak sekali pertanyaan tentang ini dan itu. Beberapa guru juga sama antusiasnya, saya selalu disuruh maju ke depan kelas dan berkenalan, bercerita tentang pengalaman saya tinggal di Bali, berulang-ulang setiap kali ada guru dan pelajaran baru yang akan dimulai.
Saya selalu pulang dalam keadaan kesal dan marah. Ngga lupa sambil membanding-bandingkan keadaan disini dengan sekolah lama saya. Di Bali, sekolah saya besar, terdiri dari beberapa gedung bertingkat, halaman yang luas, terletak di tengah kota yang lokasinya dekat pantai Sanur dan jalanan utama menuju bandara. Di sini. Bangunan sekolah ini hanya satu baris, hanya 2 tingkat, tidak ada pembatas atau penghalang dengan SD di sebelahnya, saat saya baru masuk jalanan ke sekolah belum di aspal jadi teman-teman bisa bayangkan bagimana keadaannya ketika hujan, kemudian bersebalahan dengan sungai kecil dan diseberang sungai itu, ada kandang sapi. Ketika siang hari semesta meniupkan sepoi-sepoi angin, rasanya nikmat sekali. Selain itu tidak ada banyak pilihan ekstrakuliker, tidak ada taekwondo apalagi jurnalistik. Saya akhirnya bergabung dengan eskul pramuka dan bulu tangkis. Cerita lainnya, sejak SD sampai kelas 1 SMP, saya belum pernah memakai jilbab, menggunakan rok panjang serta seragam berlengan panjang ke sekolah. Bukan jilbabnya, tapi rok panjang ini benar-benar menjadi sumber masalah. Seminggu pertama sekolah, jahitan belakang rok saya robek sekitar 5cm. 2 minggu setelah itu robeknya makin panjang jadi 10cm. Dijahit dobel, bolak-balik, rombek lagi seminggu kemudian. Dalam hampir satu tahun ini saya mungkin sudah beberapa kali mengganti rok biru, belum terhitung rok putih yang saya pakai di rabu-kamis, serta rok pramuka untuk hari jumat. Belum lagi kalau ban sepeda saya kempes, kena paku, atau rantainya tiba-tiba lepas dan sulit untuk dipasang kembali, atau stang sepeda saya bengkok karena tidak sengaja terjatuh saat orang lain mengambil sepedanya. Tidak hanya satu atau dua kali, tapi saya berkali-kali menangis ketika berjalan pulang sambil menuntun sepeda.
