Sabtu, 01 Desember 2012

Dimanapun Kita Ditanam, Berkembanglah!

Selamat malam teman-teman.

Sebelum kita beranjak tidur, saya ingin bercerita tentang semester pertama saya sebagai siswa sekolah menengah pertama yang berhasil saya lalui dengan cukup baik. Meskipun masih harus beradaptasi dengan beberapa hal, tapi overall semuanya baik-baik aja. Sedikit cerita, saya sebenarnya sudah terbiasa berangkat sekolah naik sepeda karena saat masih SD, jarak rumah dengan sekolah ngga terlalu jauh jauh. Sekarang, karena letak sekolah yang berjarak enam kilometer dari rumah, saya terpaksa harus berangkat dan pulang sekolah naik ojek yang dipesan Ibu untuk mengantar dan menjemput saya setiap hari.

Butuh waktu memang untuk membiasakan diri tiap berangkat dan pulang sekolah harus nunggu Pak Ojek dulu. Apalagi karena beberapa kali si bapak datang terlambat. Sakit perut katanya, kadang-kadang juga kesiangan. Saya tentu sering kesal, tapi kata Ibu “kalau lancar dan mulus-mulus aja, bukan perjuangan namanya.” Benar juga, pikir saya. Saya akhirnya memilih untuk ngga jadi marah, lagipula Pak Ojek kan ngga terlambat setiap hari.

Tapi, cerita itu cuma intermezo aja. Saya sebenarnya ingin menceritakan hal lain kepada teman-teman.

Beberapa hari yang lalu, setelah makan malam, Ibu dan Ayah saya bilang ingin ngomong sesuatu. Pikiran saya tentu sudah berlarian kesana kemari. Dengan cepat memutar memori kebelakang sambil bertanya-tanya, kesalahan apa ya yang sudah saya lakukan? Kebohongan yang mana ya yang ketahuan? Tapi ternyata yang Ibu katakan diluar semua dugaan.

“Ayah dimutasi, Kak. Kita pindah bulan depan ya, ke Kalimantan Timur.”

Saya terdiam beberapa saat. Mencerna baik-baik kalimat barusan. Ketakutan dimarahi karena berbuat salah atau ketahuan berbohong sudah sepenuhnya hilang dari pikiran saya. Sekarang saya malah ingin menangis.

Pekerjaan Ayah memang mengharuskan keluarga kami selalu siap untuk berpindah tempat tinggal kapan saja. Pindah dari kota A ke kota B, dari provinsi A ke provinsi B. Dari sumatera, ke Kalimatan, ke Pulau Jawa, ke Sumatera lagi. Kami harus selalu siap pindah kapan saja, dengan kurun waktu yang ngga pernah bisa disangka-sangka, dengan tempat tujuan yang juga ngga pernah bisa kami duga. Sebuah pekerjaan dimana saya harus menjalani masa sekolah dasar di tiga tempat yang berbeda, dan masa sekolah menengah pertama di dua, atau bahkan mungkin tiga tempat yang berbeda pula.

Sebenarnya beberapa kali pindah tempat tinggal membuat keluarga kami menjadi lebih terbiasa dan cepat beradaptasi dengan berbagai keadaan. Lebih cepat menyesuaikan diri meskipun beberapa kali culture shock tetap terjadi. Kami juga sudah terbiasa ngga membeli perabotan rumah yang hanya akan menyulitkan untuk dibawa ketika pindah, selain itu saya juga sudah terbiasa dengan sebutan “oh itu tuh anak barunya!” setiap kali datang ke sekolah baru.

Tapi kali ini benar-benar berbeda untuk saya. Saya menyelesaikan masa sekolah dasar dengan nilai ujian nasional yang benar-benar memuaskan, terutama untuk mata pelajaran matematika dimana saya meraih nilai sempurna. Saya meraih NIM tinggi dan berhasil lolos menjadi salah satu siswa di SMP yang saya idamkan. Tentunya dengan proses seleksi yang ketat karena pada tahun 2012 untuk pertama kalinya pemerintah menerapkan sistem pendaftaran sekolah menggunakan jalur PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) Online.

Saya kemudian bersekolah di salah satu SMP favorit di Kota Denpasar dengan riwayat prestasi sekolah yang sangat banyak, fasilitasnya lengkap, ada puluhan ekstrakulikuler yang membuat saya sangat tertarik untuk mengekplorasi diri  lebih dalam lagi. Saya untuk pertama kalinya bergabung dalam kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekolah,  bergabung dengan ekstrakulikuler jurnalistik dimana kami menerbitkan majalah sekolah setiap bulannya, selain itu saya bergabung juga dengan ekstrakulikuler taekwondo dan minggu lalu saya baru saja berhasil melewati ujian kenaikan sabuk dari hitam menjadi kuning. Saya rasa semua ini cukup untuk membuat saya merasa begitu berat untuk pindah sekolah.

Saya yang pada dasarnya cengeng ini jadi makin banyak menangis. Tentu karena saya merasa segalanya ngga mudah untuk diterima. Pikiran-pikiran buruk seperti pandangan stereotip saya kalau Kalimantan itu isinya hanya hutan, sekolah yang tidak akan sebagus sekolah lama saya, teman-teman yang tidak sebaik teman-teman lama saya, serta perasaan sedih karena harus melepaskan semua yang telah saya raih menyeruak dan mendominasi pikiran.

Seperti tadi sore, saya hanya duduk dimeja belajar sambil menatap kosong tanaman milik Ibu yang beliau rawat sejak pertama kali kami pindah ke Bali. Saya banyak melamun setelah seharian menangis dan marah-marah karena tidak ingin pindah. Tapi kemudian bunga zinnia milik Ibu yang beberapa hari ini terlihat bermekaran mengalihkan fokus saya. Bunga itu dulu ditanam ibu di taman belakang dekat jemuran. Lalu pernah juga ibu tanam di pot dan ditaruh di teras rumah. Kemudian sekarang bunga tersebut Ibu tanam di tanah di halaman rumah. Saya jadi teringat sebuah quotes terkenal yang saat itu saya temui di internet.

Blooms wherever you’re planted.

wherever life plants you, bloom with grace

Seperti bunga-bunga zinnia yang cantik itu, yang tetap tumbuh dengan baik dan tetap bermekaran dengan indah dimanapun ia ditanam, maka saya percaya manusia pun bisa menjadi seperti itu. Kita, kamu dan saya, tetap bisa berkembang, tetap bisa mekar, merekah, dimanapun kita ditempatkan. Melihat bunga itu tetap hidup ditengah musim panas maupun musim penghujan, membuat saya juga yakin bahwa meskipun di tempat baru nanti saya harus berjuang lagi menyesuaikan diri, bekerja lebih keras lagi untuk membaur dan menyatu dengan lingkungan dan teman-teman baru, saya yakin saya tetap dapat berkembang, bahkan menjadi seseorang yang lebih hebat dari saya yang sekarang. Seperti emas yang tetap akan menjadi emas dimanapun ia ditempatkan, maka saya juga akan menjadi seperti itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar